5 Hal yang Bikin Harga Bitcoin Terus Turun

Seiringnyaya waktu terus berlalu dan berganti, harga bitcoinjuga terus mengalami penurunan harga. Harga bitcoin turun pada puncaknya terjadi pada hari Rabu bertempatan pada tanggal 21 November 2018.

Harga bitcoin turunsaat itu hingga mencapai sebesar 25% dalam kurun waktu selama satu minggu. Apabila dilihat dari saat paling pucak terendah pada bulan Desember tahun 2017 hingga pada saat ini, harga bitcoin anjlok hingga mencapai sebesar 75%.

Terlihat dari berita dari blockchain[.]com, di New York Times di beritakan bahwa harga nilai tukar dari Bitcoin ke dollar AS pada tanggal 21 November 2018 adalah sebesar sekitar $4.035 dollar AS.

Dan nilai harga bitcoin terjadi lagi penurunan pada tanggal 26 November 2018 nilai sebesar $3.824 dollar AS (perkiraan sebesar Rp 55,4 juta) berasal dari bahan berita yang sama.

Dari keterangan di atas harga bitcoin terus menerus mengalami penurunan hingga puncak terendahnya, telihat dari berita di rangkuman yang berasal New York Times mengungkapkan ada setidaknya lima hal menjadi penyebab utamanya harga bitcoin terus menurun yaitu :

1. Infrastruktur dan Nilai Tukar yang Tidak Teregulasi

Tidak sedikit transaksi perdagangan berupa cryptocurrency yang mengalami di luar negeri Amerika Serikat, Akan tetapi, hal tersebut memeberikan peluang kesempatan terhadap investor guna menyimpan segala saham secara bebas, walaupun terlihat ada bahaya di dalamnya.

Ketika Bloomberg menyatakan bahwa Mentri Kehakiman Amerika Serikat Telah melakaukan menyelidiki terhadap krimanal mengenai manipulasi yang memanfaatkan salah satu dari cryptocurrency, yaitu Tether.

Tether juga biasa di sebut sebagai pembuat kerusuhan di kalangan para investor.

Universitas Texas telah melakukan suatu penelitian dan juga telah publikasikan segala hal tentang hasil yang baerkaitan tentang penemuannya yang telah mengindikasikan bahwa Tethet di manfaatkan guna menompa harga dari Bitcoin melalui sevcara manipulatif.

Sebagian dari pedagang terpaksa menjual Tethet saat keadaan yang mengalami kerugian, sebab dengan itu mereka berharap uangnya dapat kembali lagi.

Sebagian besar para pengguna cryptocurrency tidak mempercayai sepenuhnya dengan OKEx. OKEx merupakan sebuah lembaga dimana tempat penukaran mata uang digital yang aktif di negara hongkong.

Hal tersebut terjadi karena program dan peraturan di OKEx tersebut sering berubah-ubah dan tanpa memberitahukan sebelumnya kepada para pengguna investor ataupun pedadang dari cryptocurrency.

Salah seorang pengelola dari investasi, Amber Al mengungkapkan bahwa sebagian besar pengguna dan pelanggan mengalami kerugian sangat besar disebabkan adanya perubahan peraturan tersebut.

Perubahan – perubahan tersebut mengakibatkan kerugian secara besar-besaran sehingga terjadi kerusuhan antar pedagang pengguna cryptocurrency, dengan semua kejadian tersebut pihak dari OKEx meminta maaf kepada para pelanggannya.

Baca Juga : Terjawab Sudah! Ternyata Ini Penyebab Anjloknya Harga Bitcoin dan Semua Altcoin Saat Ini

2. Tindakan Regulator

Sebagian dari pendukung dan pendorong bagi sebuah nilai dari bitcoin beserta lainnya yaitu sebuah kegiatan dari Initial Coibn Offering atau dengan berbahasa Indonesia disebut penawaran perdana koin.

Hampir sama dengan program ICO yang memperbanyak melakukan 0pencarian sebuah dana untuk perusahaan.

ICO dapat memastikan untuk starup agar meraih seuatu dana, akan tetapi tidak dengan melibatkan dari regulator.

Hal tersebut membuat menjadi suah pusat perhatian dari Komisi Sekuritas dan juga dari Bursa yang telah melakukan penilaian terhadap ICO dapat melakukan pelanggaran di beberapa peraturan sekuritas yang masih berlaku.

Hingga sampai saat ini mereka masih memberikan bebrapa sanksi terhadap para perusahaan yang telah melakukan pelanggaran hukum sekuritas dengan penawaran dari perusahaan tersebut.

Terdapat dua perusahaan yang telah melakukan pelanggaran yang di sebut di atas serta perusahaan tersebut dapat berupa sanksi dari Komisi Sekuritas dan Bursa.

Mereka yang telah merugi mengharapkan suatu pengembalian berupa uang terhadap para investor, sedangkan kasus tersebut masih dalam proses untuk masa akan datang.

3. Diatur Komintas, Bukan Pemerintah

Pembisnis dari berbagai mata uang digital ini di olah oleh para komunitas dan pengembangan dari bitcoin maupun cryptocurrency. Pemerintah tidak terlibat bahkan tidak ikut serta dalam pengelolaan bitcoin tersebut. Salah satu mata uang digital yang terbesar dari cryptocurrency adalah Bitcoin.

Bitcoin tersebut di publikasikan pada bulan Januari 2009. Dalam kurun waktu yang sangat panjang atau hingga bertahun-tahun, para anggota komunitas telah bekerja sama dalam peningkatan sebuah piranti lunak. Namun, kerja sama tersebut tidak berlanjut bahkan hilang.

Perdebatan panjang yang telah terjadi sehingga sebagian dari kelompok menerbitkan versi baru software bitcoin. Versi tersebut mempunyai peraturan yang berbeda serta bergabung sebagai cryptocurrency baru yang lebih kokoh yaitu Bitcoin Cash.

Perselisihan pendapat pun tidak terhindar juga dan kembali muncul dari berbagai kelompok penggagas Bitcoin Cash dan kemudian terjadi berpisahan dan terpecah menjadi dua kelompok. Bitcoin Cash terbagi menjadi dua yaitu Bitcoin ABC dan Bitcoin SV.

Di dunia perangkat lunak, dalam satu induk sebuah sofware yang telah terbagi menjadi beberapa bagian di istilah bernama fork. akan tetapi, fork yang baru tidak dapat digantikan sebagai Bitcoin Orisinil. Meskipun, mereka memiliki kesempatan menerbitkan sebuah choas dalam pasar perdagangan di crypto.

Baca Juga : Prediksi Harga Bitcoin oleh Investor Terkenal

4. Solusi yang Tidak Nyata

Para penerbit dari Bitcoin mempunyai suatu visi untuk Bitcoin dapat permudah saat melakukan transaksi pembayaran melalui instan lintas negara, dengan tiada berfikiran tentang ribetnya untuk menukar mata uang digital ke mata uang fiat.

Ada juga sebagian dari cryptocurrency memiliki pasar investasi yang besar dan luas yaitu Ethereum. Ethereum, sampai saat ini masih terus mencoba membuat tentang komputer global. Begitupun dengan sebagian besar dari token untuk diciptakan dengan tujuan lebih besar lagi.

Namun terlihat selama ini, hanya sebagian dari beberapa token tersebut dimanfaatkan guna melakukan transaksi perdagangan spekulatif.

Begitupun para penambang mengungkapkan bahwa Bitcoin, Bitcoin Cash, Ethereum dan sebagainya di cryptocurrency tersendat disebabkan oleh kesalahan teknis yang telah membuat beberapa token milik mereka sulit di pergunakan pada saat melakukan transaksi dalam dunia nyata.

Mereka yang sudah ikut sebagai pengguna dunia mata uang cryptocurrency terdapat beberapa penawaran yang berguna untuk mempermudahkan saat melakukan sebuah transaksi di masa akan datang, namun mereka cukup lama dalam memproduksikannya.

5. Campur Tangan Pemerintah

Selama ini, Pemerintahan di beberapa negara telah menjadi sebagai oposisi cryptocurrency. Akan tetapi pendapat dari Cristine Lagarde, dari Managing Director and Chairwoman International Monetary Fund (IMF) mengutarakan bahwa dari hasil mata uang digital dapat menambah jaringan pembayaran.

Dan dia juga mengukapkan bahwa pemerintah dapat ikut serta dan andi; dalam pengaturan dari cryptocurrency yang lebih efektif serta dapat menghapus tentang kurangnya kepercayaan yang telah terbelenggu di cryptocurrency.

Baca Juga : Prediksi Harga Bitcoin (BTC) Pada Tahun 2019 oleh Pakar Crypto